PSIKOLOGI KOMUNIKATOR DAN PSIKOLOGI PESAN

Disusun oleh : RETNO SARI (RESA)

Psikologi-Komunikasidownload-1

A. KONSEP PSIKOLOGI KOMUNIKATOR

  1. Konsep Psikologi Komunikator

Dalam konsep psikologi komunikator, proses komunikasi akan sukses apabila berhasil menunjukkan source credibility atau menjadi sumber kepercayaan bagi komunikan. Holand dan Weiss menyebut ethos sebagai credibility yang terdiri atas 2(dua) unsur, yaitu keahlian(expertise) dan dapat dipercaya(Trustworthinnes). Kedua unsur tersebut mutlak harus dimiliki oleh seorang komunikator agar bersifat kredibel.

Aritoteles menyebutkan karakter komunikator sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik (good sense), akhlak yang baik (good moral character), dan maksud yang baik (good will), serta perilaku yang baik (good manner).

Para cendekiawan modern menyebut ethos Aristoteles sebagai (1) Itikad Baik (good intentions), (2)Dapat Dipercaya (trustwordthinnes), (3) Kecakapan & Kemampuan (competence & expertness).

  1. Pengertian Psikologi Komunikator

Lebih dari 2000 tahun  yang lalu, Aristoteles menulis :

Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicaranya, yang ketika ia menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang-orang baik dari pada orang lain : Ini berlaku umummnya pada masalah apa saja  dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar, anggapan sementara penulisa retorika bahwa kebaikan personal yang di ungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa-apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya  hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya”. (Aristoteles, 195:45)

Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai ethos. Ethos terdiri dari pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik (good sense, good moral, character, good will).Pendapat Aristoteles ini diuji secara ilmiah 2300 tahun kemudian oleh Carl Hovland dan Walter Weiss (1951). Mereka melakukan eksperimen pertama tentang psikologi komunikator. Kepada sejumlah besar subjek disampaikan pesan tentang kemungkinan membangun kapal selam yang digerakkan oleh tenaga atom (waktu itu, menggunakan energi atom masih merupakan impian).

Hovland dan Weiss menyebut ethos ini credibility yang terdiri dari dua unsur : Expertise (keahlian) dan trustworthiness (dapat dipercaya).Kedua komponen ini telah disebut dengan istilah-istilah lain oleh ahli komunikasi yang berbeda. Untuk expertness, McCroskey (1968) menyebutnya authoritativeness : Markham (1968) menamainya factor reliablelogical: berlo, Lemert dan Mertz (1966) menggunakan qualification. Untuk trusworthiness, peneliti lain menggunakan istilah safety, character, atau evaluative faktor. Seseorang tidak akan mempersoalkan mana istilah yang benar. Dapat disebut kredibilitas, tetapi seseorang tidak hanya melihat pada kredibilitas sebagai faktor yang mempengaruhi efektifitas sumber. Tetapi  juga akan melihat dua unsur lainnya : atraksi komunikator (source attractiviness) dan kekuasaan (source power). Seluruhnya-kredibilitas, atraksi dan kekuasaan-seseorang sebut sebagai ethos (sebagai penghormatan pada aristoteles, psikologi komunikasi yang pertama). Dimensi – dimensi ethos akan kita bicarakan pada bagaian berikutnya. (Jalaluddin Rakhamat, 2008 : 256).

  1. Dimensi – dimensi Ethos

Ethos diartikan sebagai sumber kepercayaan (source credibility) yang ditunjukkan oleh seorang orator (komunikator) bahwa ia memang pakar dalam bidangnya, sehingga oleh karena seorang ahli, maka ia dapat dipercaya. Diatas telah kita uraikan bahwa ethos atau faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas komunikator terdiri dari kredibilitas, atraksi, dan kekuasaan. Ketiga dimensi ini berhubungan dengan jenis pengaruh sosial yang ditimbulkannya. Menurut Herbert C. Kelman (1957) pengaruh komunikasi kita pada orang lain berupa tiga hal : internalisasi (internalization), identifikasi (identification), dan ketundukan (compliance).

1. Internalisasi ( Internalization )

Internalisasi terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu sesuai dengan system nilai yang dimilikinya, kita menerima gagasan, pikiran, atau anjuran orang lain, karena gagasan, pikiran, atau anjuran tersebut berguna untuk memecahkan masalah, penting dalam menunjukkan arah, atau dituntut oleh system nilai kita. Internalisasi terjadi ketika kita menerima anjuran orang lain atas dasar rasional. Kita menghentikan rokok atas saran dokter, karena kita ingin memelihara kesehatan kita atau karena merokok tidak sesuai dengan nilai – nilai yang kita anut. Dimensi ethos yang paling relevan di sini ialah kredibilitas, keahlian komunikator atau kepercayaan kita pada komunikator.

Contoh : seorang individu menghentikan rokok karena perintah dokter, karena ingin menelihara kesehatan atau karena merokok tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Dimensi ethos yang paling relevan disini ialah Kredibilitas – keahlian komunikator atau kepercayaan seseorang pada komunikator.

2. Identifikasi ( Identification )

Identifikasi terjadi bila individu mengambil perilaku yang berasal dari orang atau kelompok lain karena perilaku itu berkaitan dengan hubungan yang mendefinisikan diri secara memuaskan (satisfying self-defining relationship) dengan orang atau kelompok itu, hubungan yang mendefinisikan diri artinya konsep diri. Dalam identifikasi, individu mendefinisikan peranannya sesuai dengan peran orang lain. “He attempts to be like or actually to be the other person,” ujar Kelman. Ia berusaha seperti atau benar-benar menjadi orang lain. Dengan mengatakan pa yang iakatakan, melakukan apa yang ia lakukan, mempercayai apa yang ia percayai.individu mendefinisikan sesuai dengan yang mempengaruhinya. Dimensi ethos yang paling relevan dengan identifikasi adalah atraksi (attractiviness)–daya tarik komunikator.

Contoh : Anak berperilaku mencontoh ayahnya, murid meniru tingakah laku gurunya, atau penggemar bertingkah atau berperilaku seperti idolanya.Dimensi ethos yang paling relevan adalah Atraksi – daya tarik komunikasi.

4. Ketundukan (compliance)

Ketundukan (compliance) terjadi bila individu menerima pengaruh dari orang atau kelompok lain karena ia berharap memperoleh reaksi yang menyenangkan dari orang atau kelompok tersebut. Ia ingin mendapatkan ganjaran atau menghindari hukuman dari pihak yang mempengaruhinya. Dalam ketundukan, orang menerima perilaku yang di anjurkan bukan karena mempercayainya, tetapi Karena perilaku tersebut membantunya untuk menghasilkan efek social yang memuaskan. Kredibilitas, Atraksi, dan kekuasaan kan kita perinci pada bagian berikutnya.

Contoh : Bawahan yang mengikuti perintah atasannya karena takut dipecat, petani yang menanam sawahnya karena ancaman pamong desa.Dimensi Ethos yang berkaitan dengan ketundukan ialah kekuasaan

  1. Kredibilitas

Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat-sifat komunikator. Dalam definisi ini terkandung dua hal: (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikate, tidak inheren dalam diri komunikator; (2) Kredibilitas berkenaan dengan sifat-sifat komunikator, yang selanjutnya akan seseorang sebut sebagai komponen-konponen kredibilitas.Karena kredibilitas itu masalah persepsi.  Kredibilitas berubah bergantung pada pelaku persepsi (komunikate), topik yang dibahas, dan situasi.

Hal-hal yang mempengaruhi perspsi komunikate tentang komunikator sebelum ia berlakukan komunikasinya disebut prior ethos (Andersen,1972:82). Sumber komunikasi memperoleh prior ethos karena berbagai hal, seseorang membentuk gambaran tentang diri komunikator dari pengalamn langsung dengan komunikator itu atau dari pengalaman wakilan (vicarious experiences), misalnya, karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudah mengenal integritas kepribadiannya atau karena seseorang sudah sering melihat atau mendengarnya dalam media masa.

Pada satu kelompok dikatakan bahwa pembicara adalah hakim yang banyak menulis masalah kenakalan remaja (kredibilitas tinggi), dan pada kelompok lain dilukiskan pembicara sebagai pengedar narkotik (kredibilitas rendah).

Kita sudah membicarakan kredibiltas sebagai persepsi. Lalu, apa saja yang merupakan komponen-komponen kredibilitas ? Dua komponen kredibilitas yang paling penting adalah keahlian dan kepercayaan. Keahlian adalah kesan yang dibentuk komunikate tentang kemampuan komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan. Komunikator yang dianggap tinggi pada keahlian dianggap sebagai cerdas, mampu, ahli, tahu banyak, berpengalaman, atau terlatih. Kepercayaan adalah kesan komunikate tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya.

Koehler, Annatol, dan Applbaum (1978: 144-147) menambahkan empat komponen lagi :

1)      Dinamisme

Komunikator memiliki dinamisme, bila ia dipandang sebagai bergairah, bersemangat, aktif, tegas dan berani. Sebaliknya, komunikator yang tidak dinamis dianggap pasif, ragu-ragu, lesu dan lemah. Dinamisme umumnya berkenaan dengan cara berkomunikasi. Dalam komunikasi, dinamisme memperkokoh kesan keahlian dan kepercayaan.

2)      Sosiabilitas

Sosiabilitas adalah kesan komunikate tentang komunikator sebagai orang yang periang dan senang bergaul.

3)      Kooreientasi

Koorientasi merupakan kesan komunikate tentang komunikator sebagai orang yang mewakili kelompok yang seseorang senangi, yang mewakili nilai-nilai seseorang.

4)      Karisma

Karisma digunakan untuk menunjukkan suatu sifat luar biasa yang dimiliki komunikator yang menarik dan mengendalikan komunikate seperti magnet menarik benda-benda di seseorangrnya.

  1. Atraksi ( Attactiveness )

Atraksi (attractiveness) adalah daya tarik komunikator yang besumber dari fisik. Seorang komunikator akan mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan sikap melalui mekanisme daya tarik (fisik), misalnya, komunikator disenangi atau dikagumi yang memungkinkan komunikate menerima kepuasan.

Shelli Chaiken (1979), menelaah pengaruh kecantikan komunikator terhadap persuasi dengan studi lapangan. Ia mengkritik penelitian laboratorium yang meragukan pengaruh atraksi fisik, karena menghasilkan kesimpulan yang beraneka ragam. Penelitian Laboratoris terlalu melebih-lebihkan daya tarik fisik, dan menjadikan mahasiswa yang menjadi objek penelitian terpengaruh oleh penelitian untuk menjawab sesuai dengan kehendak peneliti.

Seseorang cenderung menyenangi orang yang tampan atau cantik, yang banyak kesamaan dengan individu lain. Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik, dan karena menarik ia memiliki daya persuasive. Tetapi kita juga tertarik pada seseorang karena adanya beberapa kesamaan antara dia dengan kita. Kalau begitu apakah komunikate akan lebih mudah menerima pesan komunikator bila ia memandang banyak kesamaan di antara keduanya ?.

Everett M.Rogers, setelah meninjau banyak penelitian komunikasi, ia membedakan antara kondisi homophily dan heterophily. Pada kondisi pertama, komunikator dan komunikate merasakan ada kesamaan dalam status sosial ekonomi, pendidikan, sikap dan kepercayaan. Pada kondisi kedua, terdapat perbedaan status sosial ekonomi, pendidikan dan kepercayaan antara komunikate dan komunikator. Komunikasi akan lebih efektif pada kondisi homophily daripada kondisi heterophily. Karena itulah komunikator yang ingin mempengaruhi orang lain sebaiknya memulai dengan menegaskan kesamaan antara dirinya dengan komunikate. Seseorang dapat mempersamakan dirinya dengan komunikate dengan menegaskan persamaan dalam kepercayaan, sikap, maksud, dan nilai-nilai sehubungan dengan suatu persoalan.

Kesamaan  dengan komunikate cenderung berkomunikasi lebih efektif: pertama, kesamaan mempermudah penyandibalikkan (decoding), yakni proses penerjemahan lambang-lambang yang diterima menjadi gagasan-gagasan. Kedua, kesamaan membantu membangun premis yang sama. Ketiga, komunikate tertarik pada komunikator. Seperti telah berulang kali seseorang sebutkan, seseorang cenderung menyukai orang-orang yang memiliki kesamaan disposisional dengan seseorang. Keempat, kesamaan menumbuhkan rasa hormat dan percaya pada komunikator.

  1. Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan ketundukan. Seperti kredibilitas dan atraksi, ketundukan timbul dari interaksi antara komunikator dan komunikate. Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat “memaksakan” kehendaknya kepada orang lain, karena ia memiliki sumber daya yang sangat penting (critical resources). Berdasarkan sumber daya yang dimilkinya, French dan Raven menyebutkan jenis-jenis kekuasaan. Klasifikasi ini kemudian dimodifikasikan Raven (1974) dan menghasilkan lima jenis kekuasaan :

  1. Kekuasaan koersif (coersive power). Kekuasaan koersif menunjukkan kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau memberikan hukuman pada komunikate. Ganjaran dan hukuman itu dapat bersifat personal (misalnya benci dan kasih sayang) atau impersonal (kenaikan pangkat atau pemecatan).
  2. Kekuasaan keahlian (expert power). Kekuasaan ini berasal dari pengetahuan, pengalaman, keterampilan, atau kemampuan yang dimiliki komunikator.
  3. Kekuasaan informasional (informational power). Kekuasaan ini berasal dari isi komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh komunikator.
  4. Kekuasaan rujukan (referent power). Disini komunikate menjadikan komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya. Komunikator dikatakan memiliki kekuasaan rujukan bila ia berhasil menanamkan kekaguman pada komunikate, sehingga seluruh perilakunya diteladani.
  5. Kekuasaan legal (legitimate power). Kekuasaan ini berasal dari seperangkat peraturan norma yang menyebabkan komunikator berwenang untuk melakukan suatu tindakan.

B. PSIKOLOGI PESAN

Seorang Psikolinguistik dari Rockefeller University, George A. Miller pernah menulis : “Kini ada seperangkat perilaku yang dapat megedalikan pikiran dan tindakan orang lain secara perkasa. Teknik pengendalian ini dapat menyebabkan Anda melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Anda tidak dapat melakukannya tanpa adanya teknik itu. Teknik itu dapat mengubah pendapat dan keyakinan, dapa digunakan untuk menipu anda dapat membuat anda gembira dan sedih, dapat memasukkan gagasan-gagasan baru ke dalam kepala Anda, dapat membuat anda menginginkan sesuatu yang tidak Anda miliki. Anda pun bahkan dapat menggunakannya untuk mengendalikan diri Anda sendiri. Teknik ini adalah alat yang luar biasa perkasanya dan dapat digunakan untuk apa saja.” (miller, 1974: 4)

Teknik ini tidak ditemukan oleh psikolog, tidak berasal dari pemberian mahluk halus, tidak juga diperoleh secara para psikologis atau lewat ilmu klenik. Teknik ini telah dimiliki bahasa. Dengan bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata, anda dapat mengatur perilaku orang lain.

Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut paralinguistic. Tetapi manusia juga menyampaikan pesan dengan selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat : ini disebut pesan ekstralinguistik. Pesan paralinguistik  dan ekstralinguistik akan kita uraikan dalam satu bagian yang kita sebut Pesan nonverbal. Selanjutnya kita akan membicarakan struktur dan imbauan pesan.

  1. Pesan Linguistik
  • Apakah bahasa itu ?

Ada dua cara untuk mendefinisikan bahasa : fungsional dan formal.

Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan” (socially shared means for expressing ideas). Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa (all the conceivable sentences that could be generated according to the rules of its grammar).

Tata bahasa meliputi tiga unsur : fonologi, sintaksis, dan semantic. Menurut George A.Miller (1974:8), untuk mampu menggunakan bahasa tertentu, kita harus menguasai ketiga tahap pengetahuan bahasa di atas, di tambah dua tahap lagi.

  • Pada tahap pertama, kita harus memiliki informasi fonologis tentang bunyi-bunyi  dalam bahasa itu.
  • Tahap Kedua, Kita harus memiliki pengetahuan sintatsis tentang cara pembentukan kalimat.
  • Tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau gabungan kata-kata.
  • Pada tahap keempat, tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan.
  • Tahap kelima kita harus mempunyai semacam system kepercayaan untuk menilai apa yang kita dengar.
  • Bagaimana kita dapat berbahasa?

Penemuan Victor menunjukan bahwa bila dipisahkan dari lingkungan manusia, seorang anak tidak memiliki kemampuan bicara. Sebaliknya, kita melihat anak yang dibesarkan didalam masyarakat manusia, pada usia 4 tahun sudah bisa berdialog denga kawan-kawannya dalam bahasa ibunya. Dalam berbahasa, Psikologi membagi kedalam 2 teori yaitu : teori belajar dari behaviorisme dan teori naratisme dari Noam Chomsky.

Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses : asosiasi, imitasi, dan peneguhan. Asosiasi berarti melazimkan suatu bunyi dengan obyek tertentu. Imitasi berarti menirukan pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya. Peneguhan dilaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak mengucapkan kata-kata yang benar. Psikolog dari Harvad, B.F.Skinner menerapkan ketiga prinsip ini ketika ia menjelaskan tiga macam respons yang terjadi pada anak-anak kecil, yang disebutnya sebagai respons mand, tact, dan echoice.      Respons mand dimulai ketika anak-anak mengeluarkan bunyi sembarangan. Respons tact terjadi bila anak menyentuh objek, kemudian secara sembarangan ia mengeluarkan bunyi. Respons echoic terjadi ketika anak menirukan ucapan orang tuanya dalam hubungan dengan stimuli tertentu.

Menurut ahli bahasa dari Massachuset Institute Technology ini, teori belajar hanyalah “play acting at sicience”, suatu penjelasan yang sama sekali tidak tepat tetapi dibungkus dengan istilah-istilah yang bernada ilmiah.

Menurut Chomsky, setiap anak mampu menggunakan suatu bahasa karena adanya pengetahuan bawaan (preexistent knowledge) yang telah deprogram secara genetic dalam otak kita. Teori perkembangan mental dari Jean Piaget memperkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada tahap-tahap tertentu pada perkembangan mental anak-anak.

  • Bahasa dan Proses Berpikir

Secara singkat teori ini dapat disimpulkan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa ; dan karena bahasa berbeda, pandangan kita tentang dunia pun berbeda pula. Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti yang telah deprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan begitu masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.

Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep-konsep dalam suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu. Ada bahasa yang dengan mudah dapat dipergunakan untuk memikirkan masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai bahkan untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang sederhana.

Bahasa memungkinkan kita menyandi (code) peristiwa-peristiwa dan objek-objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa kita mengabstraksikan pengalaman kita, dan yang lebih penting mengkomunikasikan kepada orang lain. “pemikiran yang tinggi bergantung pada manipulasi lambing,” kata Morton Hunt (1982:227),” dan walaupun lambang-lambang nonlonguistik seperti matematika dan seni sudah canggih, lambang-lambang itu sempit. Sebaliknya, bahasa merupakan pemikiran. Bahasa adalah prasyarat kebudayaan, yang tidak dapat tegak tanpa itu dengan sistem lambang yang lain. Dengan bahasa, kita, manusia, mengkomunikasikan kebanyakan pemikiran kita kepada orang lain dan menerima satu sama lain hidangan pikiran (food for thought).

  • Kata-kata dan Makna

Konsep makna telah menarik menarik perhatian komunikasi, psikologi, sosiologis, antropologis, dan linguistic. Banyak antara makna penjelasan tentang makna terlalu kabur dan spekulatif kata Jerold katz (1973:42). Brodbeck (1963) memenjernihkan pembicaraan dengan membagi makna pada tiga corak.

  • Makna yang pertama adalah makna inferensial, yakni makna satu kata (lambang) adalah objek, pikiran, gagasan, konsep yang dirujuk oleh kata tersebut. Dalam uraian Ogden dan Richards (1946), proses pemberian makna (reference process) terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referent). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan.
  • Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah sejauh dihubungkan dengan konsep-konsep lain. Fisher memberi contoh dengan kata pholigoston. Kata ini dahulu dipakai untuk menjelaskan proses pembakaran. Benda bernyala Karena ada pholigoston. Kini, setelah ditemukan Oksigen, pholigoston tidak berarti lagi.
  • Makna ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksud oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak dapat divalidasi secar empiris atau dicari rujukannya.

Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme, isoformisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, status sosial yang sama, pendidikan yang sama, ideology yang sama ; pendeknya, mempunyai sejumlah maksimal pengalaman yang sama. Pada kenyataannya tidak ada isoformisme total. Selalu tersisa ada makna perorangan.

  • Teori General Semantics

Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik, kata pengikut general semantics. General semantics tidak menjelaskan proses penyandian, tetapi ia menujukkan karakteristik bahasa yang mempersulit proses ini. Peletak dasar teori ini adalah Alferd Korzybski, pemain pedang, insinyur, spion, pelarian, ahli matematika, psikiater, dan akhirnya ahli bahasa.

Korzybski melambangkan asumsi dasar teori general semantics : bahasa seringkali tidak lengkap mewakili kenyataan; kata-kata hanya menangkap sebagian saja aspek kenyataan. Berikut ini nasihat Korzybski, dua bersifat perintah dan dua larangan.

1)      Berhati-hati dengan Abstraksi

Bahasa menggunakan Abstraksi. Abstraksi adalah proses memilih unsur-unsur realitas untuk membedakannya dari unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang digunakan berada pada tingkat abstraksi yang bermacam-macam. Abstraksi menyebabkan cara-cara penggunaan bahasa yang tidak cermat. Tiga buah diantaranya adalah: dead level abstracting, undue identification, Two-valued evaluation. Abstraksi kaku, terjadi bila kita berhenti pada tingkat abstraksi tertentuTwo-valued evaluation, penilaian dua nilai, pemikiran kalu begini begitu ialah kecenderungan menggunakan hanya dua kata untuk melukiskan keadaan.

2)      Berhati-hati dengan Dimensi Waktu

Bahasa itu statis, sedangkan realitas itu dinamis. Umtuk mengatasi ini general semantics merekomendasikan dating (penanggalan).

3)      Jangan Mengacaukan Kata dengan Rujukannya

Hubungan antara kata dengan rujukannya tidak semena-mena. Kata itu bukan rujukan, kata hanya mewakili rujukan. Karena kita sering mengacaukan kata dengan rujukan, kita juga cenderung menganggap orang lain mempunyai rujukan yang sama untuk kata-kata yang kita ucapkan.

4)      Jangan Mengacaukan Pengalaman dengan Kesimpulan

Ketika melihat fakta, kita membuat pernyataan untuk melukiskan fakta itu. Pernyataan itu kita sebut sebagai pengalaman. Kita menarikkesimpulan itu. Pernyataan itu kita sebut pengamata. Kita menarik kesimpulan bila menghubungkan hal-hal yang diamati dengan sesuatu yang tidak teramati. Dalam pengamatan kita menghubungkan lambang dengan rujukan. Dalam kesimpulan kita menggunakan pemikiran. Pengamatan dapat diuji, diverifikasi karena itu menggunakan kata-kata abstraksi rendah. Penyimpulan tidak dapat diuji secara empiris karena itu menggunakan kata-kata berabstraksi tinggi.

  1. Pesan Nonverbal

Orang mengungkapkan penghormatan kepada orang lain dengan cara yang bermacam-macam. Orang Arab menghormati orang asing dengan memeluknya. Orang-orang Polinesia menyalami orang lain dengan saling memeluk dan mengusap punggung. Orang Jawa menyalami orang yang dihormatinya dengan sungkem, Orang Jawa duduk bersial menyambut kedatangan orang yang mulia; orang belanda malah berdiri tegak. Tepuk tangan, pelukan, usapan, duduk, dan berdiri tegak adalah pesan nonverbal yang menerjemahkan gagasan, keinginan, atau maksud yang terkandung dalam hati kita.

  • Fungsi Pesan Nonverbal

Betapapun kekurangannya-seperti disindir Korzybski dan kawan-kawan-bahasa telah sanggup menyampaikan informasi kepada orang lain. Dalam hubungannya dengan bahasa, mengapa pesan nonverbal masih dipergunakan? Apa fungsi peran nonverbal?Mark L.Knapp (1972:9-12) menyebutkan lima fungsi nonverbal 1.) Refetisi-mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya, setelah saya menjelaskan penolakansaya, saya menggelengkan kepala berkali-kali,(2) Subtitusi-menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa sepatah katapun anda berkata. Anda dapat menunjukkan persetujuan denagn mengangguk -angguk, (3) Kontradiksi-menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya, anda memang hebat, (4) Komplemen- melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata, (5) Aksentuasi- menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinnya. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul mimbar.

Dale G. Leathers ( 1976:4-7 ), penulis Nonverbal Communication System, menyebebutkan enam alasan megapa pesan nonverbal sangat penting.

1)      Factor-faktor nonverbal sangat menentu makna dalam komunikasi interpersonal

2)      Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan nonverbal ketimbang pesan verbal

3)      Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relat bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan

4)      Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi.

5)      Pesan nonverbarl merupakan cara komunikasi yang lebih efesien dibandingkan dengan pesan nonverbal

6)      Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat.

  • Klasifikasi Pesan Nonverbal

Duncam menyebutkan  enam jenis pesan nonverbal: (1) kinestik atau gerak tubuh, (2) paralinguistik atau suara, (3) proksemik atau penggunaan ruangan personal dan sosial, (4) olfaksi atau penciuman, (5) sensitivitas kulit, dan (6) factor artifaktual seperti pakaian dan kosmetik.

Pesan kinestik – yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti terdiri dari tiga kompoonen utama : pesan fasial, pesan gestural, dan pesan postural.

Pesan Proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain.

Pesan Paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbeda bila diucapkan dengan cara yang berbeda.

Alat penerima sentuhan adalah kulit, yang mampu menerima dan membedakan berbagai emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan.

  1. Organisasi, Stuktur, dan Imbauan Pesan
  • Organisasi Pesan

Aristoteles, dalam buku klasik tentang komunikasi De Arte Rhetorica, menerangkan peranan taxsis dalam memperkuat efek pesan persuasive. Yang dimaksud dengan taxsis adalah pembagian atau rangkaian penyusunan pesan. Ia menyarankan agar setiap pembicaraan disusun menurut urutan: pengantar, pertanyaan, argument, dan kesimpulan. Pada tahun 1952, Beighley meninjau kembali berbagai penelitian yang ,membandingkan efek pesan yang tersusun dengan pesan yang tidak tersusun. Ia menemukan bukti yang nyata yang menunjukkan bahwa pesan yang diorganisasikan dengan baik lebih mudah dimengerti dari pada pesan yang tidak tersusun dengan baik.

Alan H.Monroe pada akhir tahun 1930-an. Menyarankan lima langkah dalam penyusunan pesan :

1)      Attention  (perhatian)

2)      Need  (kebutuhan)

3)      Satisfaction  (pemuasan)

4)      Visualization (visualisasi)

5)      Action  (tindakan)

Jadi, bila anda ingin mempengaruhi orang lain,rebutlah lebih dahulu perhatiannya, selanjutnya bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk bagaimana cara memuaskan kebutuhan itu, gambarkan dalam pikirannya keuntungan dan kerugian apa yang akan diperolehnnya bila ia menerapkan atau tidak menerapkan gagasan anda, dan akhirnya doronglah dia untuk bertindak.

  • Sturuktur Pesan

Bayangkan Anda harus menyampaikan informasi di hadapan khalayak yang tidak sefaham dengan anda. Anda harus menentukan apakah bagian penting dari argumentasi anda yang harus didahulukan atau bagian yang kurang penting. Ataukah kita harus membiarkan hanya argument-argument yang menunjang kita saja atau harus membicarakan yang pro dan kontra sekaligus.untuk menjawab sekaligus pertanyaan yang pertama banyak penelitian telah dilakukan disekiotar konsep primacy-recency. Koehler et al.(1978:170-172), dengan mengutip Cohen, menyebutkan kesimpulan peneliotian tersebut sebagai berikut:

1)      Bila pembicara menyajikan dua sisi persoalan (yang pro dan kontra), tidak ada keuntungan untuk berbiacara yang pertama, karena berbagai kondisi(waktu, khalayak, tempat dan sebagainnya) akan menentukan pembicara yang paling berpengaruh..

2)      Bila pendengar secara terbuka memihaksatu sisi argument, sisi yang lain tidak mungkin mengubah posisi mereka. Sikap nonkompromistis ini mungkin timbul karena kebutuhan untuk mempertahankan harga diri. Mengubah posisi akan  membuat orang kelihatan tidak konsisten, mudah dipengaruhi dan bahkan tidak jujur.

3)      Jika pembicara menyajiakan dua sisi persoalan, kita biasanya lebih mudah dipengaruhi oleh sisi yang disajikan lebih dahulu. Jika ada kegiatan diantara penyajian, atau jika kita diperingati oleh pembicara tentang kemungkinan disesatkan orang, maka apa yang dikatakan terakhir akan lebih banyak memberikan efek. Jika pendengar tidak tertarik pada subjek pembicaraan kecuali setelah menerima informasi tentang hal itu, mereka akan sukar mengingat dan menerapkan informasi tersebut. Sebaliknya, jika mereka sudah tertarik pada suatu persoalan , mereka akan mengigatnya baik-baik dan menerapkannya.

4)      Perubahan sikap lebih sering terjadi jika gagasan yang dikehendaki. Atau yang diterima disajikan sebelum gagasan yang kurang dikehendaki. Jika pada awal penyajian, komunikator menyampaikan gagasan yang menyenagkan kita, kita akan cenderung dan memperhatikan dan menerima pesan-pesan berikutnya. Sebaliknya, jika ia memulai dengan hal-hal yang tidak menyenagkan kita, kita akan menjadi kristis dan cenderung menolak gagasan berikutnya, betapapun baiknya.

5)      Urutan pro-kon  efektif fari pada urutan kon-pro bila digunakan oleh sumber yang memiliki otoritas dan dihormati oleh khalayak.

6)      Argumen yang terakhir didengar akan lebih efektif bila ada jangka waktu cukup lama di antara dua pesan, dan pengujian segera terjadi setelah pesan kedua.

  • Imbauan Pesan (Message Appeals)

Bila pesan-pesan kita dimaksudkan untuk mempengaruhi orang lain maka kita harus menyentuh motif yang menggerakan atau mendorong prilaku komunikate. Dengan perkataan lain, kita secara psikologis mengimbau khalayak untuk menerima dan melaksanakan gagasan kita. Dalam uraian kita yang terakhir ini, kita akan membicarakan imbauan rasional, imbauan emosional, imbauan takut, imbauan ganjaran dan imbauan motivasional. Imbauan rasional didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada dasarnya makhluk rasional yang baru bereaksi pada imbauan rasional, bila imbauan rasional tidak ada. Menggunakan imbauan rasional artinya menyakinkan orang lain dengan pendekatan logis atau penyajian bukti-bukti.

Imbauan emosional menggunakan persyaratan –persyaratan atau bahasa yang menyentuh emosi komunikate. Imbauan takut menggunakan pesan yang mencemaskan, mengancam, atau meresahkan. Imbauan ganjaran menggunakan rujukan yang menjanjikan komunikate sesuatu yang mereka perlukan atau yang menjanjikan komunikate Sesuatu yang mereka perlukan atau yan mereka inginkan. Imbauan motivasional menggunakan imbauan motif (motive appeals) yang menyentuh kondisi intern dalam diri manusia.

 

Referensi :

Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rakhmat, Jalaluddin. 2008. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja

TEORI PELANGGARAN HARAPAN

TEORI PELANGGARAN HARAPAN

disusun oleh : RETNO SARI (RESA)

pelanggaran-harapan

 

Teori Pelanggaran harapan (Expectacy Violation Theory / EVT) didasarkan pada penelitian Judee Burgoon (1978). Teori ini memandang komunikasi sebagai proses pertukaran informasi tingkat tinggi dalam hal hubungan isi komunikasi. Sehingga teori ini bisa digunakan oleh masing-masing pelaku komunikasi untuk menyerang harapan-harapan pihak lawan bicaranya, baik dalam arti positif  mapupun negatif, bergantung kepada suka atau tidak suka para pelaku komunikasi masing-masing.

Satu hal yang penting dari bahasan mengenai komunikasi adalah peranan komunikasi nonverbal. Apa yang kita lakukan dalam sebuah percakapan dapat menjadi lebih penting dari apa yang sebenarnya kita katakan. Untuk memahami komunikasi nonverbal serta pengaruhnya terhadap pesan-pesan dalam sebuah percakapan, Judee Bargoon mengembangkan Teori Pelanggaran Harapan (1978), pada mulanya disebut dengan Teori Pelanggaran Harapan Nonverbal (Nonverbal Expectancy Violations Theory). Tetapi kemudian Bargoon menghapus kata nonverbal karena sekarang teori-teori ini juga mencakup isu-isu di luar area komunikasi nonverbal. Teori pelanggaran harapan menjelaskan bahwa orang memiliki harapan mengenai perilaku nonverbal orang lain. Perubahan tak terduga yang terjadi dalam jarak perbincangan antara para komunikator dapat menimbulkan suatu perasaan tidak nyaman atau bahkan rasa marah dan sering kali ambigu. Teori ini mengintegrasikan kejadian-kejadian khusus dari komunikasi nonverbal : yaitu, ruang personal dan harapan orang akan jarak ketika perbincangan terjadi. Selain itu,karena penlanggaran ruang merupakan bagaian penting dalam teori ini, sungguh penting untuk memahami bermacam jarak sepasi sebelu mkita membahas teori ini lebih dalam ( West & Turner, 2008 : 154).

A. HUBUNGAN RUANG

Ilmu yang mempelajari penggunaan ruang seseorang di sebut sebagai proksemik (proxemics). Proksemik membahas cara seseorang  menggunakan ruang dalam  percakapan mereka dan juga perpepsi orang lain akan penggunaan ruang. Banyak orang menganggap hubungan ruang yang ada antara komunikator sebagai sesuatu yang sewajarnya, tetapi sebagaimananya di simpulkan oleh Mark knapp dan judiht hall (2002), penggunaan ruang  seseorang dapat mempengaruhi makna dan pesan. Ruang-ruang telah menarik monat penelitiin untuk interpretasi dari pelanggaran ruang. Bugroon (1978) mulai dari sebuah premis bahwa manusia memiliki dua kebutuhan yang saling bertarung afiliasi dan ruang pribadi ruang personal(personal space), menurut yang melingkupi seseorang  yang menunjukkan jarak yang di pilih untuk di ambil oleh seseorang bahwa manusia senangtiasa memiliki keinginan untuk dekat dengan orang lain tetapi  juga realitis bagi banyak dari kita. Sedikit orang dapat hidup dalam keterasingan dan walaupun demikian, sering kali orang-orang membutuhkan privasi ( West & Turner, 2008 : 155).

  1. Zona Proksemik

Teori pelanggaran harapan bugroon banyak dipengaruhi oleh karya-karya dari seseorang antropologi bernama Edward Hall (1966). Setelah mempelajari tentang orang-orang amerika utara(di daerah timur laut), jall menglaim bahwa terdapat empat zona proksemik-intim,personal,social,dan public-dan tiap zona digunakan untuk alasan-alasan yang berbeda. Hall juga memasukkan range dari jarak special dan perilaku yang sesuai untuk tiap zona. Dalam usahanya menggunakan ruang, terdapat empat zona proksemik, yaitu : Jarak intim, Zona ini mencakup prilaku yang ada pada jarak antara 0 sampai 18 inch ( 46 cm ). Hall mengamati bahwa perilaku-perilaku ini termasuk perilaku yang bervariasi mulai dari sentuhan (misalnya, hubungan intim) hingga mengamati wajah seseorang. Jarak Personal, Ini mencakup prilaku yang terdapat pada daerah yang berkisar antara 18 inci (46 CM) samapi 4 kaki (1,2 M). Menurut Hall (1966), perilaku dalam jarak personal (personal distance) termasuk bergandengan dengan tangan hingga jarak dengan tidak semua, hubungan dekat anda dengan seseorang berada paling banyak dalam zona jarak personal. Jarak personal sering kali digunakan untuk keluarga dan teman-teman Anda. Jarak Sosial, Dengan range proksemik yang berkisar antara 4-12 kaki ( 1,2-3,6 meter), kategori jarak social (social sapce) menggambarkan banyak percakapan dalam budaya  amerika serikat, contohnya, percakapan diantara rekan kerja, Hall (1966) menyatakan bahwa jarak social yang terdekat biasanya digunakan di dalam latar social yang kasual, contoh dalam pesta koktail. Jarak Publik, Jarak yang melampaui 12 kaki (3,7 meter) dan selebihnya biasanya dianggap sebagai jarak publik (public space). Titik terdekat dari jarak public biasanya  digunakan untuk diskusi formal, contohnya ,diskusi didalam kelasa antara guru dan murid. Figure public biasanya berada pada fase jauh (sekitar25 kaki [7,7 meter] atau lebih), (West & Turner, 2008 : 155-157).

  1. Kewilayahan

kewilayahan (territoriality), atau kepemilikan seseorang terhadap suatu area atau benda. Sering kali, kita mengkaliam ruang atau area tertentu yang ingin kita lindungi atau pertahankan. orang memutuskan apakan mereka ingin mendirikan pagar, memasang papan nama, atau menentukan suatu tempat sebagai milik mereka. Ada tiga jenis wilayah : primer, sekunder, dan public (Altman, 1975 ; Lyman & Scoot. 1990). Wilayah primer (primary Territories) merupakan wilayah eksklusif seseorang. Contohnya, ruang kerja seseorang atau computer adalah wilayah primer. Bahkan, biasanya orang memasang nama mereka pada wilayah primer mereka untuk  lebih menekankan wilayah  kepemilikan atas wilayah tersebut. Wilyah sekunder (secondary territories) menunjukkan hubungan personal seseorang dengan sebuah area atau benda. Wilayah sekunder  tdak eksklusif kepada satu orang saja, tetapi orang tersebut merasakan hubungan khusus dengan wilayah itu. Contohnya, banyak mahasiswa pasca sarajana merasakan bahwa perpustakaan kampus adalah wilayah sekunder mereka, mereka tidak bangunannya, tetapi mereka sering kalimenggunakan ruang yang ada di dalam bangunan tersebut. Wilayah publik (public territories) tidak melibatkan suatu afiliasi personal dan termasuk area-area yang terbuka bagi semua orang,  misalnya, pantai, taman, bioskop dan transportasi umum. Kewilayahan seringkali diikuti dengan pencegahan reaksi (knapp & Hall, 2002). Maksudnya, orang akan berusaha untuk mencegah anda memasuki wilayah mereka atau akan memberikan respon begitu wilayah mereka dilanggar. Beberapa geng menggunakan penanda wilayah untuk mencegah geng lain melanggar wilayah kekuasaan mereka. Knapp & Hall melihat bahwa jika suatu pencegahan tidak  berfungsi dalam mempertahankan wilayah seseorang, orang itu mungkin akan akan bereaksi dengan cara tertentu, termasuk menjadi tertantang secara fisik maupun kognitif. Singkatnmya, manusia biasanya menandai wilayah mereka dengan empat cara : menandai ( menandai wilayah kita) , melabeli (memberikan symbol untuk identifikasi), menggunakan  tanda atau gambar yang mengancam ( menunjukkan penampilan dan perilaku agresif), dan menduduki ( mengambil tempat terlebih dahulu dan tinggal di sana untuk waktu yang paling lama dari orang lain ( Knap, 1978). Diskusi mendalam kita mengenai ruang relevan dengan teori pelanggaran harapan tidak hanya karena teori ini berakar pada proksemik, tetapi juga karena hal tersebut memiliki aplikasi langsung dengan jarak-jarak yang sebelumnya didiskusikan. EVT berasumsi bahwa orang akan  bereaksi tergadap pelanggaran akan ruang. Hingga titik ini harapan kita akan perilaku orang lain akan bervariasi dari jarak tertentu ke jarak lainnya. Maksudnya, orang memiliki perasaan dimana orang lain seharusnya berada di dalam sebuah percakapan ( West & Turner, 2008 : 157-158).

B. ASUMSI TEORI PELANGGARAN HARAPAN

Teori  pelanggaran harapan berakar pada bagaimana pesan-pesan ditampilkan pada orang lain dan jenis-jenis perilaku yang dipilih orang lain dalam sebuah percakapan.  Selain itu, terdapat tiga asumsi yang menuntun teori ini, Pertama : Harapan mendorong terjadinya interaksi antar manusia, Kedua : Harapan terhadap perilaku manusia dipelajari, Ketiga : Orang membuat prediksi mengenai perilaku non verbal. Asumsi pertama menyatakan bahwa orang memiliki harapan dalam interaksinya dengan orang lain. Dengan kata lain, harapan mendorong terjadinya interaksi. Harapan (expectancy) dapat diartikan sebagai pemikiran dan perilaku yang diantipasi dan disetujui dalam percakapan dengan orang lain. Oleh karenanya termasuk didalam harapan ini adalah perilaku verbal dan  nonverbal seseorang. Pada tulisan awalnya mengenai EVT, Burgoon (1978) menyatakan bahwa orang tidak memandang perilaku orang lain sebagai sesuatu yang acak, sebaliknya, mereka memiliki berbagai harapan mengenai bagaiman seharusnya orang berfikir dan berperilaku. Dengan membahas penelitian mendalam yang dilakukan oleh Burgoon dan rekan-rekannya, tim Levine dan koleganya (2000) menyatakan bahwa harapan adalah hasil dari norma-norma sosial, stereotip, rumor, dan sifat idiosinkratik dari komunikator. Banyak dari orang yang melaksanakan wawancara akan mengharapkan tingkat percaya diri tertentu, yang ditunjukkan melalui jabat tangan yang hangat, percakapan timbal balik yang mengalir dengan lancar, dan kemampuan mendengar yang baik. Orang yang diwawancarai juga diharapkan menjaga jarak yang masuk akal dari pewawncara selama proses wawancara berlangsung. Banyak orang di Amerika Serikat tidak menginginkan orang yang tidak mereka kenal untuk berdiri terlalu dekat atau terlalu jauh dengan mereka. Baik di dalam suatu wawancara atau didalam suatu diskusi antara dua orang yang telah saling kenal, Burgoon dan peneliti EVT lainnya berargumen bahwa orang memasuki suatu percakapan dengan beberapa harapan mengenai bagaimana suatu pesan harus disampaikan dan bagaimana si pembawa pesan menyampaikannya.  Judee Burgoon dan Jerold hale (1988) menyatakan bahwa ada dua jenis harapan : prainteraksional dan interaksional.  Harapan prainteraksional (pre-interactional expectation) mencakup jenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang yang dimiliki oleh komunikator sebelum ia memasuki sebuah percakapan.  Orang tidak selalu mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankan sebuah percakapan. Beberapa pembicara adalah orang yang sangat argumentatif, sementara yang lainnya sangat pasif. Kebanyakan orang tidak mengharapkan untuk melihat perilaku yang seekstrim itu didalam pembicaraan mereka dengan orang lain. Harapan interaksional (interactional expectation) merujuk pada kemampuan seseorang untuk menjalankan interaksi itu sendiri. Kebanyakan orang mengharapkan orang lain untuk menjaga jarak sewajarnya dalam sebuah percakapan. Terlebih lagi, dalam berkomunikasi dengan orang lain, sikap-sikap mendengarkan seperti kontak mata yang lama sering kali diharapkan. Beberapa perilaku ini dan masih banyak yang lainnya sangat penting untuk dipertimbangkan ketika kita mempelajari peranan harapan sebelum dan selama interaksi berlangsung. Hal ini menuntun kita pada asumsi EVT yang kedua, bahwa orang mempelajari harapannya melalui  budaya secara luas dan juga individu-individu dalam budaya tersebut. Misalnya, budaya Amerika mengajarkan kita bahwa hubungan antara profesor dan mahasiswa didasari rasa hormat profesional. Walaupun tidak disebutkan secara gamblang dalam hampir semua ruang kuliah, para profesor memiliki status sosial yang lebih besar dibandingkan mahasiswa, dan karenanya harapan-harapan tertentu muncul di dalam hubungan mereka dengan mahasiswa. Contohnya, kita mengharapkan dosen memiliki banyak pengetahuan mengenai bahan perkuliahan , untuk menjelaskannya dengan baik kepada mahasiswa , dan untuk selalu ada bagi mahasiswa untuk membantu mereka jika mereka masih bingung akan suatu pokok bahasan.  Kita juga mengarapkan profesor untuk menggunakan sentuhan dengan  berhati-hati , karena mahasiswa wanita dan pria memilik respons yang berbeda terhadap sentuhan dari profesor mereka (lannutti, laliker & hale, 2001) dalam buku (West & Turner, 2008 : 158-159).

Hubungan dosen-mahasiswa hanya satu contoh dalam sebuah hubungan tertentu.  Oleh karena itu setiap diskusi antara dosen dan mahasiswa diwarnai harapan-harapan budaya akan bagaimana keduanya harus berhubungan satu sama lain. Beberapa institusi masyarakat (keluarga, media, bisnis, dan industri dst) memiliki peranan penting dalam menentukan pola budaya apa yang  harus diikuti. Ketentuan budaya yang berlaku umum ini dapat diikuti oleh individu-individu dalam percakapan mereka satu sama lain.

Individu-individu  dalam sebuah budaya juga berpengaruh dalam mengkomunikasikan harapan. Burgoon & Hale (1988) menyatakan bahwa sangat penting bagi kita untuk memerhatikan perbedaan-perbedaan berdasarkan pengetahuan awal kita mengenai orang lain, sejarah hubungan kita dengan mereka, dan observasi kita. Misalnya pengalaman masa lalu dengan calon-calon karyawan memengaruhi bagaimana sesorang memandang sebuah interaksi dan harapannya terhadap pelamar pekerjaan dalam sebuah wawancara (sejarah hubungan). Selain itu, harapan juga merupakan hasil dari pengamatan kita. Dalam sebuah keluarga, misalnya berdiri sangat dekat satu sama lain merupakan norma yang berlaku, tetapi norma ini belum tentu ada di dalam keluarga lainnya. Skenario-skenario yang menarik muncul dalam percakapan ketika individu-individu yang terlibat di dalamnya memiliki norma yang berbeda; harapan akan jarak dalam percakapan bervariasi dan dapat memengaruhi persepsi terhadap interaksi atau bahkan memiliki konsekuensi. Asumsi yang ketiga terkait dengan prediksi yang dinjuat oleh orang mengenai komunikasi nonverbal.  Kita akan melihat bahwa teoretikus EVT telah menerapkan ide mengenai harapn ini pada perilaku verbal. Walaupun begitu, pernyataan awal EVT berhubungan secara spesifik pada perilaku nonverbal.  Pada titik ini sangatlah penting untuk menunjukkan sebuah pandangan yang terkandung dalam teori ini : orang membuat prediksi  mengenai perilaku nonverbal orang lain. Judee Burgoon dan Joseph walter (1990) memperluas pemahaman awal EVT melalui ruang personal ke area-area lain dalam komunikasi nonverbal , termasuk sentuhan dan postur. Mereka menyatakan  bahwa keatraktifan orang lain memengaruhi evaluasi akan harapan. Dalam percakapan, orang tidak hanya sekedar memberikan perhatian pada apa yang dikatakan oleh orang lain. Perilaku nonverbal memengaruhi percakapan, dan perilaku ini mendorong orang lain untuk membuat prediksi (West & Turner, 2008 : 160).

Contoh untuk menjelaskan asumsi ini lebih jauh yaitu misalnya seseorang yang menurut anda menarik mulai mengadakan kontak mata langsung dengan anda disebuah toko. Awalnya anda mungkin akan merasa sedikit aneh dengan tatapan yang  berkepanjangan ini. akan tetapi, karena anda merasa tertarik dengan orang ini, kerikuhan yang muncul segera berganti menjadi rasa nyaman. Bahkan, anda mungkiin akan mulai menduga bahwa orang itu juga tertarik kepada anda karna anda melihat berkurangnya jarak fisik diantara anda berdua. Contoh ini menggambarkan fakta bahwa anda sedang membuat prediksi (yaitu orang itu tertatik kepada anda) berdasarkan perilaku nonverbalnya (kontak mata dan ruang personal). Sebelum anda mulai memercayai dugaan anda akan adanya ketertarikan , ingatlah bahwa reaksi anda dapat menjadi salah sama sekali. Tanpa memerhatikan tingkat percaya diri anda, komunikasi nonverbal sering kali ambigu dan dapat menimbulkan banyak interpretasi.

C. VALENSI PENGHARGAAN KOMUNIKATOR

Valensi penghargaan komunikator adalah jumlah dari karakteristik-karakteristik positif dan negatif dari seorang dan potensi bagi orang itu untuk memberikan penghargaan atau hukuman. Burgoon, Deborah Coker dan Ray Coker melihat bahwa tidak semua pelanggaran atas perilku yang diharapkan menimbulkan persepsi negative. Dalam kasus-kasus dimana perilaku bersifat ambigu atau menimbulkan banyak interpretasi, tindakan yang dilakukan oleh komunikator dengan tingkat penghargaan tinggi dapat menimbulkan makna positif sementara tindakan yang dilakukan dengan tingkat penghargaan rendah dapat menimbulkan makna negative. Valensi penghargaan komunikator adalah potensi yang dimiliki orang baik unutk memberikan penghargaan maupun memberikan hukuman dalam percakapan dan dapat membawa karakteristik positif maupun negative dalam sebuah interaksi. Menurut teori pelanggaran harapan, interpretasi terhadap pelanggaran seringkali bergantung pada komunikator serta nilai-nilai yang mereka miliki (West & Turner, 2008 : 161).

Communicator Reward Valence adalah unsur yang ketiga yang mempengaruhi reaksi kita. Sifat alami hubungan antara komunikator mempengaruhi bagaimana mereka (terutama penerima) merasakan tentang pelanggaran harapan. Jika kita “menyukai” sumber dari pelanggaran ( atau jika pelanggar adalah seseorang yang memiliki status yang tinggi, kredibilitas yang tinggi, atau secara fisik menarik), kita boleh menghargai perlakuan yang unik tersebut. Bagaimanapun, jika kita ” tidak menyukai” sumber, kita lebih sedikit berkeinginan memaklumi perilaku nonverbal yang tidak menepati norma-norma sosial; kita memandang pelanggaran secara negative (Infante, 2003: 178).

Dengan kata lain jika kita menyukai orang yang melanggar tersebut, kita tidak akan terfokus pada pelanggaran yang dibuatnya, justru kita cenderung berharap agar orang tersebut tidak mematuhi norma-norma yang berlaku. Sebaliknya bila orang yang melanggar tersebut adalah orang yang tidak kita sukai, maka kita akan terfokus pada pelanggaran atau kesalahannya dan berharap orang tersebut mematuhi atau tidak melanggar norma-norma sosial yang berlaku.

NEV Theory mengusulkan sebagai fakta bahwa hal tersebut tidak hanya sesuatu pelanggaran perilaku nonverbal dan reaksi kepada nya. Sebagai ganti (nya), NEV Theory berargumen bahwa siapa yang melakukan berbagai hal pelanggaran masi harus dikelompokkan dalam rangka menentukan apakah suatu pelanggaran akan dilihat sebagai negatif atau positif. Tidak sama dengan model interaksi nonverbal lainnya seperti teori penimbulan pertentangan/discrepancy arousal theory ( lihat Lepoire & Burgoon, 1994), NEV Theory meramalkan bahkan suatu “pelanggaran yang ekstrim dari suatu harapan” boleh jadi dipandang secara positif jika itu dilakukan oleh komunikator yang mendapat penghargaan tinggi (Burgoon & Hale, 1988, hal.63) dalam buku (Infante, 2003: 179).

1. RANGSANGAN

Burgoon awalnya merasa bahwa penyimpangan harapan memiliki konsekuensi. Penyimpangan, atau pelanggaran ini, memiliki apa yang disebut sebagai “nilai rangsangan” (Burgoon, 1978 : 133). Maksudnya, ketika harapan seseorang dilanggar, minat atau perhatian orang tersebut akan dirangsang, sehingga ia akan menggunakan mekanisme tertentu untuk menghadapi pelanggaran yang terjadi. Ketika rangsangan (arousal) terjadi minat atau perhatian seseorang terhadap penyimpangan akan meningkat dan perhatian terhadap pesan akan berkurang sementara perhatian pada sumber rangsangan akan meningkat (LaPoire dan Burgoon, 1996). Burgoon dan Hale (1988) kemudian menyebut hal ini “kesiagaan mental” atau “respons yang berorientasi” dimana perhatian dialihkan pada sumber penyimpangan. Seseorang dapat terangsang secara kognitif maupun fisik. Rangsangan kognitif (cognitive arousal) adalah kesiagaan atau orientasi terhadap pelanggaran. Ketika kita terangsang secara kognitif, indera intuitif kita meningkat. Rangsangan fisik (physical arousal) mencakup perilaku-perilaku yang digunakan komunikator dalam sebuah interaksi, seperti keluar dari jarak pembicaraan yang membuat tidak nyaman, menyesuaikan pandangan selama interaksi berlangsung, dan seterusnya. Kebanyakan penelitian Teori Pelanggaran harapan (Expectacy Violation Theory/EVT) telah menginvestigasi rangsangan kognitif (melalui catatan mengenai laporan diri), tetapi sedikit penelitian menelaah mengenai rangsangan psikologis. Satu penelitian yang provokatif yang meneliti rangsangan fisik dalam sebuah percakapan dilaksanakan oleh Beth LaPoire dan Judee Burgoon (1996). Mereka meminta mahasiswa-mahasiswa universitas untuk terlibat dalam wawancara medis palsu. Selama interaksi berlangsung, para peneliti mempelajari detak jantung, suhu kulit, dan perubahan volume denyut nadi setiap lima detik sembari mengevaluasi adanya pelanggaran harapan. Hanya detak jantung dan volume denyut nadi yang menunjukkan signifikansi statistik. Hasil menunjukkan bahwa setelah para relawan mengalami rangsangan kognitif terhadap sebuah pelanggaran, mereka pertama-tama mengalami penurunan detak jantung dan volume denyut nadi meningkat. Hal ini kemudian diikuti oleh turunnya volume denyut nadi. Singkatnya, orang menyadari ketika orang lain tidak bersikap sesuai dengan harapan dalam interaksi. Rangsangan merupakan hal yang rumit, namun juga merupakan bagian penting dalam EVT. Sebagaimana yang kita lihat, rangsangan lebih dari sekedar sadar ketika orang lain melakukan pelanggaran ( West & Turner, 2008 : 162-163 ).

2. BATAS ANCAMAN

Begitu rangsangan timbul, ancaman akan muncul. Konsep penting yang ketiga dalam EVT adalah batas ancaman ( threat threshold ) yang oleh Burgoon (1978) didefinisikan sebagai “jarak dimana orang yang berinteraksi mengalami ketidaknyamanan fisik dan fisiologis dengan kehadiran orang lain”(hal 130). Dengan kata lain, batas ancaman adalah toleransi bagi pelanggaran jarak. Burgoon melanjutkan bahwa “ketika jarak disamakan dengan ancaman, jarak yang lebih dekat dilihat lebih mengancam dan jarak yang lebih jauh lebih aman”(hal 134). Dalam hal ini, jarak diinterpretasikan sebagai pernyataan mengancam dari seorang komunikator. Orang dapat saja memberikan penghargaan maupun hukuman terhadap sebuah ancaman. Burgoon mencapai kesimpulan ini dengan mempelajari penelitian terhadap kesukaan dan ketertarikan. Penelitian ini menyatakan bahwa jarak dekat digunakan untuk orang-orang yang kita suka atau kepada siapa kita tertarik. Beberapa orang tidak masalah ketika orang berdiri dekat dengan mereka; batas ancaman mereka, karenanya tinggi. Beberapa menjadi tidak nyaman ketika orang berdiri terlalu dekat  dengan mereka;bagi mereka, batas ancamannya rendah. Jadi, misalkan saja Anda tertarik pada seseorang yang selalu Anda temui di Starbucks tiap pagi, batas ancaman memungkinkan akan tinggi saat ia berbicara dengan Anda dan makin mendekat pada Anda ketika pembicaraan berlanjut lebih jauh. Dalam interaksi yang sama, Anda mungkin akan menemukan bahwa orang ini bukanlah orang yang ingin Anda ajak berteman lebih jauh, dan batas ancaman Anda akan menjadi semakin kecil. Burgoon melihat bahwa ukuran batas didasarkan pada bagaimana kita memandang pelaku ancaman, yang telah dibahas sebagai valensi penghargaan komunikator. Begitu pelanggaran terjadi, yang telah dibahas sebagai valensi penghargaan komunikator. Begitu pelanggaran terjadi, kita lagi-lagi akan menginterpretasikan pelanggaran tersebut. Walaupun Burgoon kemudian memutuskan bahwa batas ancaman tidak selalu diasosiasikan dengan lawan bicara, konsep ini merupakan konsep yang penting untuk dipikirkan ketika Anda sedang berusaha memahami EVT (West & Turner, 2008 : 163).

D. VALENSI PELANGGARAN

Ketika mereka berbicara dengan orang lain mereka memiliki harapan, harapan yang didasarkan dari norma sosial lawan bicaranya. Namun ketika harapan dilanggar orang mengevaluasi langgarang tersebut berdasarkan sebuah valensi. Valensi Pelanggaran (Violation Valance) merujuk pada penilaian positif atau negati dari sebuah perilaku yang tidak terduga. Valensi pelanggaran sangat berbeda dengan Valensi penghargaan Komunikator. Ketika kita menggunakan valensi penghargaan komunikator. Valensipelanggaran, sebaliknya, berfokus pada penyimpangan itu sendiri. Valensi pelanggaran melibatkan pemahaman suatu pelanggaran melalui interpretasi dan evaluasi singkatnya para komunikator berusaha untuk menginterpretasikan makna dari sebuah pelanggaran dan memutuskan apakah mereka menyukainya atau tidak. Burgoon dan kolega-koleganya mengingatkan kita untuk berhati-hati, karena tidak semua pelanggaran dapat terjadi dengan jelas, dan sebagai akibatnya kita menggunakan valensi penghargaan komunikator. Jika sebuah pelanggaran bersifat ambigu  atau menimbulkan banyak interpretasi, EVT memprediksikan bahwa komunikator akan mempengaruhi bagaimana pelanggaran dievaluasi dan diinterpretasi.  Komunikator menginterpretasikan pelanggaaran menggunakan valensi penghargaan komunikator,  jika orang tersebut adalah orang yang kita sukai maka kita akan mengevaluasi pelanggaran secara positif. Dan sebaliknya jika dengan orang yang tidak kita sukai maka kita akan memandang pelanggaran tersebut dengan negative (West & Turner, 2008 : 164).

 

KESIMPULAN

Teori Pelanggaran Harapan adalah satu dari sedikit teori yang secara khusus berfokus pada apa yang diharapkan orang dan reaksi mereka kepada orang lain dalam sebuah percakapan. Asumsi dan konsep intinya menunjukkan dengan jelas pentingnya pesan-pesan nonverbal dan pemrosesan informasi. EVT juga meningkatkan pemahaman kita akan bagaimana harapan memengaruhi jarak dan percakapan. Teori ini menemukan apa yang terjadi didalm benak para komunikator dan bagaimana komunikator memonitor perilaku nonverbal dalam percakapan mereka.

Teori Pelanggaran Harapan tertarik dengan struktur dari pesan-pesan nonverbal. Teori ini menyatakan bahwa ketika norma-norma Komunikasi dilanggar, pelanggaran ini dapat dipandang dengan positif dan negative, tergantung dari persepsi penerima terhadap sipelanggar, melanggar harapan seseorang biasanya merupakan strategi yang dapat digunakan disbanding dengan memenuhi harapan seseorang.

Teori Pelanggaran Harapan juga merupakan teori yang penting karena ia menawarkan suatu cara untuk menghubungkan perilaku dan kognisi. Teori ini merupakan salah satu teori Komunikasi yang memberikan pemahaman yang lebih baik kepada kita mengenai kebutuhan kita akan orang lain dan juga ruang personal. Oleh karena itu, karya Burgoon akan terus dianggap penting dan menjadi pelopor dalam bidang ilmu Komunikasi.

 

referensi :

  • West, Richard dan Turner, Lynn H. 2008. Pengantar Teori Komunikasi  Analisis dan Aplikasi. Jakarta : PT. Salemba Humanika.
  • Infante, Dominic A, Andrew S Rancer, Deanna F Womack. 2003. Building Communication Theory.  Illinois : Waveland Press Inc.

Aku adalah Kehidupan dan Kehidupan adalah aku

DSC_8894DSC_8894 

Bertiup kearah sang penghidupan

Menikmati panorama sang alam dipagi nan indah

Merasakan sejuk nya alam yang damai

Dimana suara tangisan aku dilahirkan

Hingga kini aku berdiri bersandar di tembok bumi

Memahami disetiap waktu yang ku lalui

Ternyata tak bisa ku mengerti

Aku hanya bisa melihat dan membacanya

Terus siapa kah aku?

Untuk apa aku dilahirkan?

Semua pertanyaan bermain – main di benak ku

Berlahan tapi pasti aku melangkah melesuri sang waktu

Berharap ada sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaan ku

Dikala warna – warna suram yang hadir, aku melemah

Keajaiban datang pada ku membawa cahaya yang menyinari ku

Ternyata aku adalah mereka yang membawa cahaya untukku

Aku adalah seorang yang mereka sayangi, merka itu adalah cahaya ku

Cahaya itu seketika meredup, dan aku akan memberi warna cahaya itu agar bersinar

Ternyata aku dilahirkan untuk mereka yang menyayangiku,

Aku dilahirkan untuk mengubah dunia menjadi bersinar

aku adalah kehidupan yang saat ini nyata

Dan kehidupan adalah aku yang menjalaninya

was the life and life is me

 

Oleh : Retno Sari ( Resa  )

Jadi kan Pribadi berprestasi yang bermanfaat dengan “Solihin Abu Izzudin”

dsc_2033_copy

Guys seperti biasanya ini adalah tulisan ku saat meliputi berita seputar kegiatan Unri saat aku masih bergabung di Tabloid Tekad Ilmu Komunikasi FISIP UR… simak yukkkk sebagai motivasi buat kita…

SABTU, (19/4) Forum Kajian Massya Uin Suska bekerjasama dengan UKM ARROYAN UNRI untuk  menyelenggarakan acara kajian motivasi “Kanzi Ajizz” (Kelemahan ku adalah kekuatanku) yang dikutip dari buku “Deadline Your Life” dalam hal ini materi akan disampaikan oleh penulis Solihin Abu Izzudin, yang merupakan Trainer, pembicara nasional, dan penulis buku-buku Best Seller, yang salah satu karyanya adalah Zero To Hero.

Kegiatan tersebut dibuka dengan lantunan tillawah ayat suci al-Qur’an oleh mahasiswa UIN suska di masjid Arfa’unnas UNRI lantai satu, acara ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai Fakultas UNRI maupun UIN Suska.

Solihin Abu Izzudi, Penulis Best Seller yang juga menjadi pemateri pada acara tersebut, mengungkapkan, “acara ini bertujuan untuk menjadi pribadi yang memiliki prestasi yang bermanfaat, menjadi pribadi yang bisa berkontrobusi kedepannya , dengan  harapan membangkit semangat generasi muda untuk menulis dan menciptakan sebuah buku, penulis nasional ini juga mengatakakan buku kehidupan adalah prestasi-prestasi kita”.

Salah satu Bendahara LSI AL-MAIDAN Fakultas FKIP UR yang menghadiri acara tersebut  mengatakan bahwa “dengan diadakan acara ini ia bisa mengambil hikmah bahwa kegagalan bukanlah kelemahan,tetapi kegagalan adalah prestasi yang akan membentangi diri untuk tidak terjerumus kepada kekalahan, ketika kita bangkit danbergerak dari kegagalan menuju kesuksesan, gagalan bukan berari tidak mampu, tetapi gagal membuat kita kuat untuk menjadi orang sukses sejati,”sebutnya, Jumat (19/4).

Nurdina, yang juga salah satu peserta UR, mengatakan bahwa dengan menghadiri acara ini banyak hikmah yang bisa diambil dari penulis terkenal, selain materi yang disampaikan bagus, hikmah yang bisa diambil adalah membuat dirinya lebih semangat,” katanya.

Selamatkan wanita Indonesia dari Kanker Serviks (Rahim) dan Kanker Payudara

kanker-rahimkanker-payudara

Guys ditulisan ku kali ini mau berbagi cerita nih khususnya untuk para wanita, yang pria sih juga sebagai pengetahuan  pada 03 Oktober 2012 lalu, Organisasi Gerakan Indonesia Sehat  (GIAT) Menyelenggarakan acara seminar Kesehatan di Gedung Auditoruim Sultan Balia FISIP.. nah disana aku mendapat tugas untuk meliput kegiatan itu untuk dijadikan cakrawala di tabloid tekad ilmu komunikasi, yaa saat itu aku bergabung di organisasi kampus ku..simak yukkk guys…

Baca lebih lanjut

Saat Duduk Jokowi Lebih Banyak Genggam Tangan, Gugup?

212122_jokgugup

Jakarta – Debat calon presiden digelar KPU untuk kedua kalinya mempertarungkan gagasan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dalam debat, capres Joko Widodo lebih banyak menggenggam kedua tangannya. Gugup?

Pantauan di arena debat Hotel Grand Melia, Jakarta, Sabtu (15/6/2014), Joko Widodo yang hadir didampingi keluarganya dan pasangannya Jusuf Kalla, tampak mengenakan jas hitam dan dasi merah.

Sejak sesi pertama hingga sesi ketiga, Gubernur DKI non aktif itu terlihat lebih banyak menggenggam kedua tangannya. Tangan kanan digenggam tangan kiri. Tampak cincin yang dikenakannya di jari manis.

Meski pada sesi ketiga Jokowi sesekali tampak menulis dan menengok pandangannya pada kertas yang ada di hadapannya. Nada bicara Jokowi sesekali merendah dan berjeda.

Sementara capres Prabowo Subianto yang duduk di sebelah kanan panggung, tampak lebih luwes. Tangan kanannya berada di atas meja, sementara tangan kirinya di atas paha kirinya.

Prabowo tampak lebih sedikit menulis, bahkan pada sesi ketiga saat menjawab pertanyaan moderator, Prabowo sudah berdiri meski pertanyaan belum selesai. Masih ada 3 sesi lagi untuk debat capres malam ini.

 

Sumber : detikcom

Menjadi Seorang Penyiar itu Menyenangkan

IMG-20131017-00349

Hay guys, salam hangat buat kalian yang lagi bacain tulisan ku ini, dalam tulisan ini aku ingin berbagi cerita mengenai pengalaman  sewaktu menjadi seorang penyiar di PT RADIO SMKart 88,4 FM Selatpanjang Kabupaten Kepulauan Meranti.

          Sebenarnya sih gak ada rencana buat aku nulis tentang ini, malah jauh diluar ide yang pengen aku kembangin, awalnya sih iseng-iseng bongkar  file-file dilaptop  dan gak sengaja membuka album foto  sewaktu aku masih aktif di radio, dan dengarin iklan dan jingle yang dibuat menggunakan suara ku,,,, duhhh sumpah dehhh aku kangen buanget tauuu gak sihhh… nahh guys mau tau gak kenapa aku jadi kangen begini?? Yaa jawabannya because an announcer was fun, dan memiliki cerita tersendiri loo..

Aku menjadi seorang penyiar sekitar tahun 2009, saat itu aku masih duduk dibangku SMK kelas 2, menjadi seorang announcer bukan lah sesuatu yang ku rencanakan, bahkan sebelumnya aku tidak menyukai dunia radio apalagi untuk mendengar radio, duuuh gak banged deh pada saat itu..hihihihi tapi kok bisa ya aku jadi penyiar, anehh kan yaaa begitulah.. althoughstrangebuttrue….

Baca lebih lanjut

Pengenalan Komputer

komputer 1

Jika mendengar kata computer, semua orang pasti mengenalnya sebagai alat elektronik multifungsi untuk membantu kita dalam pekerjaan atau dalam hal hiburan, menurut prosedur yang telah dirumuskan dan juga dapat menjangkau hal – hal yang diinginkan oleh manusia sesuai dengan fungsi dan kegunaan computer itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Mengatasi Account Twitter yang Disuspended.

Gambar

Assalamualaikum wr.wb

 Hai guys… apa kabar 😀 semoga baik-baik saja tentunya ya…
baiklah disni saya akan memberikan sedikit tips bagi kalian kalian yang memiliki kendala atau masalah pada akun twitter nya. apa itu? yuk disimak 🙂

 

 

1. Klik http://support.twitter.com/forms/general?subtopic=suspended

2. Isi Form form yang disediakan, saya berikan contoh

Regarding : Suspended account
Subject : Account Suspended
Description of problem :

  • Dear twitter,

exposed to suspend my account. and I apologize if I am wrong in using twitter. But I do not understand what the error to my account suspended. help me so that my account could be in use again, because this account is the account belongs to the community.Thanks very much.

  • I apologize if I am wrong to use my twitter account.

My twitter account suspended, I can not see the number of followers and friends on my twitter account.
I also can not get into twitter via phone (m.twitter.com).
On this issue, I want my twitter account back to normal.
thank you.

Pilih salah satu

Full name: Contoh
Twitter username: @contoh
Email address: contoh@email.com
Phone number(optional): +628191xxxx  ( tidak diwajibkan mengisi phone number )

3. Setelah mengisi semua Form form, Lalu submit.

Setelah itu cek email kamu, pasti ada balasan dari pihak twitter ,tentang apa saja kesalahan yang terjadi pada akunmu, lalu kamu diperintahkan mereply untuk memngakui dan berhenti dari kesalahan2 tersebut.

Lalu balas kiriman itu, bahwa kita mengakui dan berbuat kesalahan, dan tidak akan melakukan lagi.

Bisa dibalas dengan ini

“Dear twitter, exposed to suspend my account. and I apologize if I am wrong in using twitter. but I do not understand what the error to my account suspended. help me so that my account could be in use again, because this account is the account belongs to the community. thanks very much”

Twitter username: @contoh
Full name: Contoh
Email address: contoh@email.com

Lalu tunggu 1-5 hari dan akun kita sudah bisa di buka kembali.

 

Sumber : ebizosys94 Blog

Baca lebih lanjut